Siapa yang Wajib Berqurban Saat Idul Adha

Berqurban di hari raya Idul Adha hukumnya adalah Sunah Muakad (sangat dianjurkan), lalu benarkah ada hal yang membuat hukum berqurban menjadi wajib? Cek selengkapnya yuk!

Sahabat, arti kata ‘qurban’ adalah pendekatan diri, makna selengkapnya yakni mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan penyembelihan hewan ternak.

Jika kita telusuri sejarah, ritual qurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, yakni dengan menjadikan hewan ternak dan hasil bumi sebagai bahan pengurbanan untuk Allah.

Namun kemudian, banyak suku-suku adat tertentu melakukan ritual qurban yang menjadikan nyawa manusia sebagai tumbalnya, terutama anak-anak. Ada yang dijatuhkan ke jurang, ke laut, dibakar, dan lain sebagainya.

Dalam Islam, qurban yang menumbalkan manusia seperti ini tidaklah dibenarkan bahkan dilaknat, oleh karena itu penyembelihan hewan ternak untuk dibagikan pada orang-orang miskin merupakan perlambang bahwa yang diterima oleh Allah adalah ketaqwaannya, bukan darah ataupun daging hewan qurbannya itu sendiri.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Nah, berkenaan dengan hukum Qurban, beberapa Imam Mazhab berpendapat ibadah qurban hukumnya Sunah Muakad, karena para Sahabat Rasulullah SAW pernah menyengaja tidak berqurban agar tidak dianggap wajib oleh Umat Islam.

Demikian juga Rasulullah SAW menyampaikan bahwa hukum berqurban adalah wajib bagi beliau, namun sunah bagi umatnya.

Hadits Ibnu Abbas, beliau mendengar Nabi bersabda, “Tiga hal yang wajib bagiku, sunah bagi kalian yaitu shalat witir, qurban, dan shalat Dhuha.” (HR Ahmad dan al-Hakim).

Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan ibadah qurban sejak disyariatkannya, sampai beliau wafat, karena qurban tersebut merupakan amalan yang wajib untuk beliau kerjakan sebagai seorang Nabi, namun tidak wajib bagi umat Islam pada umumnya.

Hanya Imam Abu Hanifah yang berpendapat ibadah qurban hukumnya wajib bagi yang mampu secara ekonomi, dan tidak dalam kondisi safar (perjalanan jauh), apalagi menilik hadits berikut ini:

“Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, makan jangan sekali-kali mendekat ke tempat sholat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Jelas bahwa Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa orang yang Allah beri kelebihan harta wajib mengupayakan qurban.

Lantas, adakah kondisi lainnya di mana hukum qurban menjadi wajib?

Ya, tentu saja ada. Yakni manakala seseorang bernazar untuk berqurban. Apa yang dimaksud nazar?

Nazar adalah sebuah janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu jika tujuan yang diinginkan tercapai, contohnya sebagai berikut:

“Apabila saya diterima bekerja di perusahaan X, saya akan berqurban.”

“Anak kambing yang baru saya beli ini akan saya jadikan kambing qurban.”

“Jika ibu saya sembuh, saya akan berqurban.”

Setiap nazar adalah janji, dan janji harus ditepati, oleh sebab itu… qurban bisa menjadi wajib hukumnya jika dinazari seperti itu.

Wallaahualam. Semoga info yang disampaikan dalam artikel ini bermanfaat.

Leave a Comment